Peranan Roh Kudus dalam Doa
1 Korintus 14:15
Doa merupakan sesuatu yang
seharusnya dilakukan oleh orang-orang Kristen. Karena, orang-orang percaya yang
memiliki iman sejati menyadari bahwa mereka pada dasarnya adalah manusia yang
tidak berdaya, lemah, dan miskin di hadapan Allah. Mereka juga tidak berdaya
untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Mereka perlu menyadari bahwa apa yang
mereka butuhkan berada di dalam Allah dan Tuhan Yesus Kristus, bukan di dalam
diri mereka sendiri. Karena semua yang kita butuhkan ada di dalam Kristus, maka
orang Kristen seharusnya mencari dan memintanya di dalam doa kepada Allah.
Tidak meminta di dalam doa kepada Allah berarti sama dengan orang yang
mengabaikan harta terpendam yang ia miliki.
Doa itu sendiri adalah
suatu persekutuan antara manusia dan Tuhan untuk memohon agar apa yang Tuhan
telah janjikan dapat terpenuhi di dalam kehidupan orang percaya.
Mengapa berdoa
Karena semua yang kita
butuhkan ada didalam kristus, maka orang kristen seharusnya mencari dan
memintanya di dalam doa kepada Allah. Tidak meminta dalam doa kepada Allah
berarti sama dengan orang yang mengabaikan harta yang terpendam yang ia miliki.
Menurut Calvin
Doa merupakan suatu
persekutuan akrab, bahkan suatu percakapan antara manusia dan Tuhan, yang melibatkan
dua pribadi yang memiliki perasaan dan hati. Karena itu doa bagi orang percaya
adalah suatu emosi dari dalam hati yang dituangkan dan diungkapkan di hadapan
Allah. Doa bukan suatu tindakan yang dilakukan tanpa perasaan hati dan emosi.
Mungkin ada orang-orang
yang mengatakan bahwa doa tidak berguna karena allah sudah mengetahui apa
kebutuhan kita, lagi pula Allah adalah Allah yang baik. Ia pasti akan
mencukupkan segala kebutuhan kita tanpa kita bedoa.
Doa merupakan suatu
perintah Allah untuk kebaikan kita sendiri yaitu untuk melatih iman percaya
kita agar tidak menjadi malas dan lemah.
Ada beberapa alasan mengapa kita
perlu berdoa.
1. Doa membakar hati kita dengan
kemauan untuk mencari, mengasihi dan melayani Allah serta mencari pertolonganya
di kala kita membutuhkannya.
2. Doa melatih kita untuk membuka
rahasia dan keinginan hati kita kepada Allah tanpa merasa malu.
3. Doa melatih kita untuk
mensyukuri apa yang sudah kita terima dari Allah.
didalam doa hati kita datang dengan pengucapan syukur dan terima kasih karena
semua yang kita terima berasal dari Allah.
4. Doa membimbing kita untuk
merenungkan kebaikan Allah karena ia telah menjawab doa kita.
5. Doa menghasilakn sukacita yang
lebih besar karena Hal-hal yang kita terima melalui doa
6. Doa berfungsi sebagai konfirmasi
yang bersifat pribadi terhadap pemeliharaan Allah, bahwa Allah adalah Allah
yang tidak pernah gagal menolong kita.
Aturan-aturan agar orang-orang
percaya dapat berdoa dengan benar.
1. Doa harus diarahkan kepada Allah
dengan sikap hormat.
orang yang berdoa harus mengatur pikiran dan hatinya agar bersifat hormat .
2. Doa yang harus dipanjatkan
haruslah doa yang keluar dari perasaan kebutuhan yang sungguh-sungguh dan
dengan rasa penyesalan. Doa yang tidak sungguh dan tulus merupakan suatu
penghujatan kepada Allah.
3. Doa harus dipanjatkan dengan
rendah hati.
kemulian dan keyakinan diri sendiri harus yang dibuang, semua kemulian
ditujukan kepada Allah.
4. Doa yang dipanjatkan dengan
rendah hati tersebut harus juga disertai dengan keyakinan bahwa doa kita akan
dijawab.
Doa
– doa orang percaya dijawab hanya melalui pengampunan Allah bukan karena sesuai
dengan aturan-aturan tersebut. Sebab seringkali doa-doa yang dinaikan tidak
sesui denga peraturan tersebut. Tetapi Allah menjawab karena belas kasihan dan
pengampunannya.
Roh kudus sebagai
inisiator dalam doa.
orang-orang tidak percaya dan tidak beriman mungkin saja berdoa
memohon pertolongan dan pembebasan. Tetapi doa-doa mereka merupakan penghujatan
kepada Allah. Harus diakui bahwa kadangkala doa-doa mereka dijawab oleh Allah
meskipun doa-doa tersebut tidak keluar dari iman kepada Allah yang benar. Namun
baginya hal ini merupakan kasus khusus dan tidak dapat dijadikan hukum.
Menurutnya, Allah mau menjawab doa-doa tersebut karena Ia berbelas kasihan
kepada mereka sebagai orang-orang berdosa. Lagi pula, ada perbedaan antara
orang-orang yang tidak beriman tersebut dan orang-orang percaya yang dibimbing
oleh iman dan pengertiannya akan kebaikan Allah.
Doa yang benar adalah
doa yang lahir dari iman kepada Allah yang benar. Doa yang benar dan sejati
bukan hanya sekadar mengangkat suara tetapi merupakan suatu permohonan yang
keluar dari prinsip iman yang benar. Berdoa dengan benar lahir dari iman dan
iman yang benar lahir dari firman Tuhan. [Rom 10:14, 17].”
Dengan demikian, hanya
orang-orang percayalah yang dapat berdoa kepada Allah dan menerima berkat dari
Allah, Di sinilah peran Roh Kudus diperlukan. Manusia tidak mampu menciptakan
iman untuk dirinya sendiri. Roh Kudus yang menciptakan iman di dalam kehidupan
orang percaya tersebut. Jadi, Roh Kuduslah yang memungkinkan manusia untuk
berdoa kepada Allah.
Jika kita bandingkan
dengan karya Kristus di dalam doa maka dapat dikatakan bahwa Kristus, dengan
karya penebusan-Nya, membuka jalan untuk kita berdoa sedangkan Roh Kudus memampukan
kita berjalan di jalan doa tersebut. Selain menciptakan iman di dalam diri
orang percaya, Roh Kudus, yang adalah Roh Adopsi, bersaksi kepada orang percaya
bahwa mereka adalah anak-anak Allah.
Kesaksian Roh Kudus ini
penting karena bagi Calvin, orang percaya tidak mungkin bisa berdoa dengan
benar jika didalam hati dan pikiran mereka tidak diyakinkan bahwa mereka adalah
anak-anak Allah. Orang percaya sendiri tidak dapat menghasilkan keyakinan
tersebut karena selalu terjadi kegelisahan dan ketidakpastian di dalam pikiran
mereka. Roh Kuduslah yang memberikan jaminan ke dalam roh dan pikiran
orang-orang percaya tersebut bahwa mereka telah menjadi anak-anak Allah.
Tanpa kesaksian Roh
Kudus orang-orang percaya tidak memiliki keyakinan tersebut. Ketika Roh Kudus
bersaksi kepada kita bahwa kita adalah anak-anak Allah, pada saat yang
bersamaan Ia memberikan kepada kita suatu keberanian untuk memanggil Allah,
Bapa kita. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah, Bapa kita, dengan berani
dan dapat berdoa dengan benar.
Roh kudus sebagai penolong kita
dalam doa.
Menurut Calvin, sebagai orang percaya kita adalah manusia yang
lemah. Ada banyak kejahatan di luar kita yang dapat mengancam kita. Di samping
itu, kita juga memiliki banyak beban penderitaan. Semua ini memang dapat
menghalangi kita berdoa dengan sempurna dan baik. Pikiran kita dapat tertutup
oleh kegelapan sehingga tidak dapat meminta apa yang bijaksana dan pantas
kepada Allah. Pikiran-pikiran kita dibingungkan dan diganggu oleh
kesulitan-kesulitan kita bahkan oleh kejahatan-kejahatan kita sendiri.
Bukan hanya pikiran, tetapi keinginan hati atau emosi kita juga
dapat salah dan tidak mengikuti perintah-perintah Tuhan. Sehingga, apabila kita
berdoa dengan mengikuti keinginan hati kita semata-mata, maka kita tidak dapat
berdoa dengan benar. Jika kita menjadikan keinginan hati membimbing doa-doa
kita maka kita menjadikan Allah sebagai alat kejahatan kita daripada menjadikan
Dia sebagai hakim
Allah mengutus Roh Kudus untuk menolong kita berdoa dengan benar
dan mengangkat beban-beban kita. Ia adalah Rekan di dalam menanggung
beban-beban kita. Ia juga menolong kita dengan cara memberi tahu apa yang benar
dan mengontrol emosi kita. Setidaktidaknya, di sini ada tiga peran Roh Kudus di
dalam doa.
Pertama, Roh Kudus mengajar pikiran kita
apa yang seharusnya kita minta di dalam doa. Di sini peranan Roh Kudus
dibandingkan dengan peranan-Nya di dalam memberikan pencerahan kepada kita
untuk memahami Alkitab. Roh Kudus memberi kita pengertian tentang apa yang
seharusnya boleh dan layak kita doakan, serta bagaimana seharusnya kita berdoa.
Karena itu, kita seharusnya tidak terburu-buru membuka mulut untuk berdoa
sampai Roh Kudus mengajar kita bagaimana berdoa.
Kedua, Roh Kudus menggerakkan hati
kita untuk berdoa. Roh Kudus bukan hanya memberikan pengertian yang benar
kepada kita tetapi Ia juga mendorong hati kita untuk mau berdoa. Keinginan
mula-mula untuk berdoa pun berasal dari Roh Kudus; doa sebenarnya merupakan
buah sulung Roh Kudus di dalam diri kita. Bahkan ketika kita berdoa meminta
agar Roh Kudus datang memenuhi kita, inipun terjadi karena kita telah memiliki
Roh Kudus. Di sini kita melihat bahwa Roh Kudus membimbing hati dan pikiran
kita agar dapat berdoa dengan benar. Roh Kudus inilah yang kemudian menimbulkan
di dalam diri kita keyakinan, keinginan, dan keluh kesah kepada Allah.
Keluhan-keluhan yang diucapkan di bawah pimpinan Roh Kudus inilah yang disebut
keluhan yang tak terucapkan (Rm. 8:26)
Di samping kedua peran tersebut, ada peran yang ketiga, yaitu Ia mengilhami doa-doa
kita dengan kesungguhan dan ketekunan. Kesungguhan dan ketekunan untuk berdoa
merupakan ciri-ciri dari doa-doa Kristen. Roh Kuduslah yang mempengaruhi hati
kita dengan kesungguhan dan ketekunan sehingga doa-doa kita sampai ke surga.
Bagi Calvin doa-doa yang digerakkan oleh Roh Kudus akan didengar oleh Allah
karena Allah mengenali keinginan-keinginan kita di dalam doa sebagai keinginan
yang berasal dari Roh-Nya sendiri.
Roh Kudus akan membimbing
pendoa-pendoa tersebut agar berdoa sesuai dengan kehendak Allah. Doa seperti
ini akan didengar Allah dan tidak akan dikecewakan oleh Allah. Kendati
demikian, bukan berarti kita hanya menunggu gerakan dan dorongan Roh Kudus
untuk berdoa, sehingga tidak diperlukan usaha dan upaya manusia lalu kita dapat
bermalas-malasan berdoa. Bagi Calvin justru seharusnya kita berdoa memohon agar
Roh Kudus menolong kita berdoa. Dorongan Roh Kudus tidak meniadakan upaya
manusia karena di dalam hal ini iman kita teruji, apakah iman kita
sungguh-sungguh dapat menggerakan hati kita.
Kesimpulan
Roh Kuduslah yang
melahirkan pendoa-pendoa melalui iman yang diciptakan-Nya di dalam diri
manusia. Roh Kudus juga yang memberikan keyakinan bagi orang-orang percaya
untuk menghampiri Allah sebagai Bapa mereka.
Selain itu, di dalam doa
Roh Kudus menolong orang-orang percaya dengan mengajarkan apa yang dapat
diminta dan bagaimana mereka memintanya. Ia juga yang menggerakkan hati mereka
untuk berdoa, mengeluarkan keluh kesah yang bahkan tidak begitu pahami oleh
mereka sendiri, yang disebut sebagai keluh kesah yang tak terucapkan.
Ia pula yang mendorong
orang-orang percaya untuk berdoa dengan sungguh-sungguh dan tekun. Namun hal
ini tidak boleh membuat kita malas berdoa dan hanya menunggu Roh Kudus
menggerakkan kita untuk berdoa. Justru kita harus memohon agar Roh Kudus
menolong kita untuk berdoa. Lagi pula, di dalam doa ini akan teruji apakah iman
kita adalah iman yang sejati atau bukan.