Rabu, 06 Juni 2012

Air Traffic Control ( ATC )

Pemandu Lalu Lintas Udara (bahasa Inggris: Air Traffic Controller, ATC) adalah penyedia layanan yang mengatur lalu lintas di udara terutama pesawat terbang untuk mencegah pesawat terlalu dekat satu sama lain dan tabrakan. ATC atau yang disebut dengan Air Traffic Controller merupakan pengatur lalu lintas udara yang tugas utamanya mencegah pesawat terlalu dekat satu sama lain dan menghindarkan dari tabrakan (making separation). Selain tugas separation, ATC juga bertugas mengatur kelancaran arus traffic (traffic flow), membantu pilot dalam menghandle emergency/darurat, dan memberikan informasi yang dibutuhkan pilot (weather information atau informasi cuaca, traffic information, navigation information, dll). ATC adalah rekan dekat seorang Pilot disamping unit lainnya, peran ATC sangat besar dalam tercapainya tujuan penerbangan. Semua aktifitas pesawat di dalam area pergerakan diharuskan mendapat izin terlebih dahulu melalui ATC, yang nantinya ATC akan memberikan informasi, insturksi, clearance/izin kepada Pilot sehingga tercapai tujuan keselamatan penerbangan, semua komunikasi itu dilakukan dengan peralatan yang sesuai dan memenuhi aturan.

Tujuan

Berikut ini adalah tujuan pelayanan lalulintas udara yang diberikan oleh ATC berdasarkan Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS) bagian 170 atau sering disebut dengan istilah 5 objective of ATS dalam ICAO dokumen ANNEX 11 tentang Air Traffic Service:
  • Mencegah Tabrakan antar pesawat.
  • Mencegah Tabrakan antar pesawat di area pergerakan rintangan di area tersebut.
  • Mempercepat dan mempertahankan pergerakan Lalu Lintas udara.
  • Memberikan saran dan informasi yang berguna untuk keselamatan dan efisiensi pengaturan lalu lintas udara.
  • Memberitahukan kepada organisasi yang berwenang dalam pencarian pesawat yang memerlukan pencarian dan pertolongan sesuai dengan organisasi yang di persyaratkan 


Pembagian Pelayanan Lalu Lintas Udara

Sesuai dengan tujuan pemberian Air Traffic Services, Annex 11, International Civil Aviation Organization (ICAO), 1998, Pelayanan yang diberikan oleh petugas pemandu lalu lintas udara terdiri dari 3 (tiga) layanan, yaitu:
  • Pelayanan Lalu Lintas Udara (Air traffic control service), terbagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu:
    • Aerodrome Control Service
    Memberikan layanan Air Traffic Control Service, Flight Information Service, dan Alerting Service yang diperuntukkan bagi pesawat terbang yang beroperasi atau berada di bandar udara dan sekitarnya (vicinity of aerodrome) seperti take off, landing, taxiing, dan yang berada di kawasan manoeuvring area, yang dilakukan di menara pengawas (control tower). Unit yang bertanggung jawab memberikan pelayanan ini disebut Aerodrome Control Tower (TWR).
    • Approach Control Service
    Memberikan layanan Air Traffic Control Service, Flight Information Service, dan Alerting Service, yang diberikan kepada pesawat yang berada di ruang udara sekitar bandar udara, baik yang sedang melakukan pendekatan maupun yang baru berangkat, terutama bagi penerbangan yang beroperasi terbang instrumen yaitu suatu penerbangan yang mengikuti aturan penerbangan instrumen atau dikenal dengan Instrument Flight Rule (IFR). Unit yang bertanggung jawab memberikan pelayanan ini disebut Approach Control Office (APP).
    • Area Control Service
    Memberikan layanan Air Traffic Control Service, Flight Information Service, dan Alerting Service, yang diberikan kepada penerbang yang sedang menjelajah (en-route flight) terutama yang termasuk penerbangan terkontrol (controlled flights). Unit yang bertanggung jawab memberikan pelayanan ini disebut Area Control Centre (ACC).
  • Pelayanan Informasi Penerbangan (Flight Information Service)
Flight Information Service adalah pelayanan yang dilakukan dengan memberikan berita dan informasi yang berguna dan bermanfaat untuk keselamatan, keamanan, dan efisiensi bagi penerbangan.
  • Pelayanan keadaan darurat (alerting service)
Pelayanan keadaan darurat adalah pelayanan yang dilakukan dengan memberitahukan instansi terkait yang tepat, mengenai pesawat udara yang membutuhkan pertolongan search and rescue unit dan membantu instansi tersebut, apabila diperlukan.

Prosedur separasi minimal

Dalam menjalankan tugas pemanduan lalu lintas udara, terdapat berbagai prosedur dan peraturan. Prosedur dan peraturan tersebut telah ditentukan dalam bentuk aturan baku, baik secara internasional maupun nasional. Untuk peraturan dan prosedur internasional dikeluarkan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization, ICAO) berupa buku-buku aturan (annexes) dan buku-buku petunjuk (manual) dalam bentuk baku dan anjuran. Sesuai aturan pada Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization / ICAO) Doc. 4444 ATM / 501, Chapter 5 point 5.3.2, 5.4.1.2, 5.4.2.2 dan 5.4.2.3 untuk menciptakan pelayanan lalu lintas udara yang optimal, terutama keselamatan dalam penerbangan, maka dibuatlah peraturan-peraturan atau ketentuan sebagai berikut:
Ketentuan-ketentuan cara pemisahan pesawat udara
  • Separasi Vertikal, didapat dengan cara membedakan ketinggian (altitude, flight level) pesawat udara.
  • Separasi Horizontal, didapat dengan cara memberikan:
    • Separasi longitudinal: dengan cara menjaga jarak antara pesawat udara yang terbang pada jalur yang sama berpotongan, berlawanan arah, dinyatakan dalam unit waktu atau jarak.
    • Separasi lateral: dengan cara memberikan rute penerbangan dalam arah atau jalur yang berbeda.
  • Composite Separation: kombinasi antara separasi horisontal, bila dilaksanakan harus ada persetujuan regional air navigation.
Ketentuan-ketentuan jarak minimum antar pesawat udara
  • Separasi Vertikal Minimum:
    • Besarnya separasi vertikal minimum adalah 1000 feet pada F290 atau dibawahnya dan 2000 feet jika di atas F290.
    • Pada ruang udara tertentu didasarkan atas persetujuan regional tentang navigasi udara, separasi vertikal 300 m (1000 feet) boleh diterapkan sampai pada ketinggian F410 sedangkan di atas ketinggian F410, separasinya harus 600 m (2000 feet).
  • Separasi Lateral
Separasi Lateral adalah pemisahan jalur lintasan (track) antar pesawat udara yang menggunakan alat bantu navigasi udara untuk terbang di track tertentu dengan jarak minimum:
  • 1> Very High Frequency Omni Range (VOR): Kedua pesawat udara sudah pada radial yang terpisah secara diverging kurang lebih 150 dan salah satu pesawat udara kurang lebih sudah berada pada jarak 28 km (15 Nm) atau lebih dari alat bantu navigasi tersebut.
  • 2> Non Directional Beacon (NDB): Kedua pesawat udara sudah pada track ke atau dari yang terpisah secara diverging kurang lebih 300 dan salah satu pesawat udara kurang lebih sudah berada pada jarak 28 km (15 Nm) atau lebih dari alat bantu navigasi tersebut.
  • 3> Dead Reckoning (DR): Kedua pesawat udara sudah pada track yang terpisah secara diverging kurang lebih 450 dan salah satu pesawat udara kurang lebih sudah berada pada jarak 28 km (15Nm) atau lebih dari titik perpotongan track.
  • Separasi Longitudinal
    • Separasi Longitudinal didasarkan atas waktu, artinya pemisahan pesawat udara dengan menggunakan waktu. Hal tersebut dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
      • Untuk pesawat udara yang terbang pada track yang sama:
        • 15 menit.
        • 10 menit, bila ada alat bantu navigasi untuk mengetahui posisi dan kecepatannya.
        • 5 menit, diberikan kepada pesawat udara yang berangkat di bandara yang sama atau antara dan pesawat udara en-route dimana pesawat udara yang di depan lebih cepat 20 knots atau lebih.
        • (d) 3 menit, dalam kasus yang dengan point di atas tetapi pesawat udara yang di depan mempunyai kecepatan 40 knot atau lebih.
  • 2> Untuk pesawat udara yang climbing atau descending:
(a) 15 menit, pada saat terjadi perpotongan ketinggian.
(b) 10 menit, pada saat terjadi perpotongan ketinggian dan ada alat bantu navigasi.
(c) 5 menit, pada saat terjadi perpotongan ketinggian, perubahan ketinggian dimulai dalam 10 menit dari waktu pesawat udara kedua melaporkan posisinya.
  • 3> Untuk pesawat udara yang berpotongan track (arah terbang)
(a) 15 menit, pada saat terjadi perpotongan ketinggian.
(b) 10 menit, apabila ada alat bantu navigasi yang memungkinkan untuk mengetahui posisi dan kecepatannya.
  • Minimum separasi longitudinal yang didasarkan pada jarak dengan menggunakan DME:
  • 1> Untuk pesawat udara pada ketinggian terbang yang sama dan track yang sama:
(a) 37 km (20 Nm), dilaksanakan jika pesawat udara menggunakan DME stasiun dan pemisahan dicek dengan pembacaan DME.
(b) 19 km (10 Nm), pesawat udara yang di depan lebih cepat 20 knots, pada track DME, dapat dicek posisi pada saat bersamaan.
  • 2> Untuk pesawat udara pada ketinggian yang sama dan tracknya berpotongan:
Sama dengan ketentuan di atas dengan tambahan setiap pesawat udara dapat diketahui jaraknya dari titik perpotongan.
  • 3> Untuk pesawat udara yang climbing atau descending pada track yang sama:
19 km (10 Nm) pada saat terjadi perpotongan ketinggian, setiap pesawat udara pada track DME, salah satu pesawat udara tetap pada ketinggiannya, pemisahan dapat dicek dengan pembacaan DME secara bersamaan.
  • e) Minimum Separasi Radar
Kondisi dunia penerbangan saat ini mengalami perkembangan, yang ditandai dengan bertambahnya perusahaan penerbangan dan armadanya. Hal ini berakibat pada bertambahnya jumlah pergerakan pesawat udara yang mengakibatkan kepadatan lalu lintas udara.
Menurut Drs. Aminarno Budi Pradana SSiT.MM dalam buku peraturan dan pelayanan lalu lintas udara (2000:18-19), menyebutkan bahwa, kepadatan lalu lintas udara terjadi disebabkan karena jumlah lalu lintas udara meningkat atau kapasitas sistem pemanduan lalu lintas udara menurun. Hal ini dapat menimbulkan ketidaklancaran dan ketidakefisienan arus lalu lintas udara.
Menurut Aminarno (2000:60) Untuk itu harus dilakukan usaha penyelesaian yaitu, dengan upaya meningkatkan kapasitas sistem pemanduan lalu lintas udara. Salah satunya adalah dengan melakukan pemasangan peralatan radar, sehingga dalam pelayanan lalu lintas udara menggunakan prosedur radar.
Minimum Separasi Radar Menurut Doc 4444 ATM / 501 Chapter 8 point 8.7.4.1 dan 8.7.4.2 adalah sebagai berikut:
  • 1> Separasi Horizontal: 9,3 km (5 Nm)
Separasi di atas dapat diterapkan oleh penyelengara bandar udara dan bisa dikurangi tetapi tidak boleh kurang dari:
  • 2> 5,6 km (3,0 Nm) apabila kemampuan peralatan radar memenuhi syarat dan dapat memberikan lokasi yang diijinkan (tidak terhalang obstacle).
  • 3> 4,6 km (2,5 Nm) antar pesawat udara yang di depan dan yang di belakang, keduanya telah berada pada final approach track yang sama dalam 1,8 km (10 Nm) dari end of runway, pengurangan separasi minimum 4,6 km (2,5 Nm) boleh dilakukan dengan ketentuan:
(a) Pesawat udara yang mendarat dapat keluar dari runway dengan waktu tidak boleh lebih dari 5 detik.
(b) Sistem pemberhentian dilaporkan dalam keadaan baik dan runway occupancy times tidak dirugikan oleh pengaruh salju yang menumpuk, salju atau es.
(c) Sistem radar dilengkapi dengan azimuth dan resolusi jarak, yang secara otomatis diperbaharui dalam tempo setiap 5 detik atau kurang dari itu, dan menggunakan display yang sesuai.
(d) ATC Aerodrome dilengkapi dengan surface movement radar (SMR) atau surface movement guidance and control system (SMGCS) untuk mengamati secara visual yang terletak pada runway yang digunakan dan pada keluar dan masuknya taxiways.
(e) Approach speed harus tetap dijaga dan dimonitor oleh pemandu lalu lintas penerbangan, dan ketika dibutuhkan penyesuaian, maka harus diyakinkan atau dijamin dengan separasi dan tidak boleh dikurangi dibawah minimum separasi.
(f) Operator pesawat udara dan pilot, harus benar-benar menyadari pentingnya pengosongan runway secepatnya setelah mendarat, jika penggunaan minimum separasi di final approach diaplikasikan.
(g) Peranan saparasi minimum wake turbulance adalah fleksible, tidak harus sesuai standar prosedur, tetapi boleh sesuai dengan local prosedur yang diterapkan sesuai dengan tipe pesawat udara.
(h) Prosedur yang digunakan pada pengaplikasian pengurangan dalam minimum saparasi harus dipublikasikan dalam AIPs.
Menurut Drs. Aminarno BP.SsiT.MM (1998:67), Tujuan pemberian pelayanan radar dalam pemanduan lalu lintas penerbangan antara lain:
  • 1> Meningkatkan pemanfaatan ruang udara (airspace utilization):
Di dalam pelayanan non-radar di wilayah Area Control Centre (ACC), pesawat harus terbang pada jalur penerbangan yang terbatas jumlahnya, dan pengaturan pesawat dilakukan secara linier, sedangkan di dalam pelayanan radar, pesawat tidak terikat oleh jalur penerbangan dan boleh disimpangkan (radar navigation) untuk memperoleh jalur terpendek atau terdekat, sehingga pesawat dapat diatur secara menyebar atau sejajar.
  • 2> Mengurangi pemisahan jarak minimum (separation minima), sehingga semakin banyak pesawat yang ditampung.
  • 3> Memandu pesawat melalui rute langsung (mengurangi waktu terbang dan biaya operasi):
Di dalam pelayanan non-radar, pesawat dipandu secara ketat agar tidak keluar jalur (karena lebar aman air traffic service hanya 5-10 Nm dari as jalur), maka di dalam pelayanan radar pesawat dapat diarahkan langsung ke titik tujuan (radar navigation), sehingga jarak yang harus ditempuh bisa lebih pendek dan pada akhirnya adalah lebih efisien.
  • 4> Mengurangi beban kerja petugas pemandu lalu lintas udara.
  • 5> Meningkatkan keselamatan lalu lintas udara melalui acuan penglihatan atau visual.
Menurut Drs.Aminarno BP.SsiT.MM (1998:71), keuntungan yang diperoleh dari pemberian pelayanan lalu lintas udara dengan menggunakan radar, antara lain:
  • 1> Menjaga kewaspadaan atau pengawasan dengan informasi posisi yang lengkap.
  • 2> Memberikan arahan atau panduan (vector) untuk pemisahan, bantuan bernavigasi, mempercepat keberangkatan melalui jarak terpendek (jalan pintas atau jalan potong kompas) dan approach radar.
3> Membantu dalam memberikan informasi lalu lintas udara, menggambarkan posisi pesawat udara dalam kondisi darurat (plotting emergency condition), menghindari cuaca jelek, dan lain-lain

 Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pemandu_lalu_lintas_udara

Fenomena Frekuensi Listrik

Fenomena Frekuensi Listrik

Berbicara mengenai frekwensi listrik tidak lepas dari analisa dari pembangkit listrik/generator, karena sumbernya dari situ. Bagi yg non electrical yg masih kurang faham apa itu frekwensi saya coba kasih gambaran disini.

Frekwensi sebenarnya adalah karakteristik dari tegangan yg dihasilkan oleh generator. Jadi kalau dikatakan frekwensi 50 hz, maksudnya tegangan yg dihasilkan suatu generator berubah-ubah nilainya terhadap waktu, nilainya berubah secara berulang-ulang sebanyak 50 cycle setiap detiknya. jadi tegangan dari nilai nol ke nilai maksimum (+) kemudian nol lagi dan kemudian ke nilai maksimum tetapi arahnya berbalik (-) dan kemudian nol lagi dst (kalau digambarkan secara grafik akan membentuk gelombang sinusoidal) dan ini terjadi dalam waktu yg cepat sekali, 50 cycle dalam satu detik. Jadi kalau kita perhatikan beban listrik seperti lampu, sebenarnya sudah berulang kali tegangan nya hilang (alias nol) tapi karena terjadi dalam waktu yg sangat cepat maka lampu tersebut tetap hidup.

Jadi kalau kita amati fenomena ini dan mencoba bereksperimen, coba kita buat seandainya kalau frekwensinya rendah, kita ambil yg konservatif misalnya 1 hz, apa yg terjadi maka setiap satu detik tegangan akan hilang dan barulah kelihatan lampu akan hidup-mati secara berulang-ulang seperti lampu flip-flop (lihat animasi disebelah kanan).

Dari analisa diatas kita bisa tarik kesimpulan bahwa untuk kestabilan beban listrik dibutuhkan frekwensi yg tinggi supaya tegangan menjadi benar-benar halus (tidak terasa hidup-matinya). Nah sekarang timbul pertanyaan kenapa 50 hz atau 60 hz kenapa gak dibuat saja yg tinggi sekalian 100 hz atau 1000 hz biar benar-benar halus. untuk memahami ini terpaksa kita harus menelusuri analisa sampai ke generatornya. Tegangan yg berfrekwensi ini yg biasa disebut juga tegangan bolak-balik (alternating current) atau VAC, frekwensinya sebanding dengan putaran generator. Secara formula N = 120f/P
N = putaran (rpm)
f = frekwensi (hz)
P = jumlah pasang kutub generator, umumnya P = 2

Dengan menggunakan rumus diatas, untuk menghasilkan frekwensi 50 hz maka generator harus diputar dengan putaran N = 3000 rpm, dan untuk menghasilkan frekwensi 60 hz maka generator perlu diputar dengan putaran 3600 rpm, jadi semakin kencang kita putar generatornya semakin besarlah frekwensinya. Nah setelah itu apa masalahnya? kenapa gak kita putar saja generatornya dengan putaran super kencang biar menghasilkan frekwensi yg besar sehingga tegangan benar2 halus. Kalau kita ingin memutar generator maka kita membutuhkan turbine, semakin tinggi putaran yg kita inginkan maka semakin besarlah daya turbin yg dibutuhkan, dan selanjutnya semakin besarlah energi yg dibutuhkan untuk memutar turbin. Kalau sumber energinya uap maka makin banyaklah uap yg dibutuhkan, dan makin besar jumlah bahan bakar yg dibutuhkan, dst dst.

Para produsen generator maupun turbine tentunya mempunyai batasan dan tentunya setelah para produsen bereksperimen puluhan tahun dengan mempertimbangkan segala sudut teknis maka dibuatlah standard yangg 50 hz dan 60 hz itu, yg tentunya dinilai cukup efektif untuk kestabilan beban dan effisien dari sisi teknis maupun ekonomis. Eropa menggunakan 50 hz dan Amerika menggunakan 60 hz. Setelah adanya standarisasi maka semua peralatan listrik di desain mengikuti ketentuan ini. Jadi logikanya kalau 50 hz atau 60 hz saja sudah mampu membuat lampu tidak kelihatan kedap-kedip untuk apalagi dibuat frekwensi lebih tinggi yg akan memerlukan turbine super kencang dan sumber energi lebih banyak sehingga tidak efisien.

Baik tegangan maupun frekwensi dari generator bisa berubah-ubah besarnya berdasarkan range dari beban nol ke beban penuh. sering kita temui spesifikasi menyebutkan tegangan plus minus 10% dan frekwensi plus minus 5%. Ini artinya sistim supplai listrik/generator harus di desain pada saat beban penuh tegangan tidak turun melebihi 10% dan pada saat beban nol tegangan tidak naik melebihi 10%, begitu juga dengan frekwensi.

Berlian Syako
Lead Electrical Engineer
Escravos Export System Project - Chevron Nigeria Ltd
(hasil diskusi di yahoo groups)

sumber http://electrical-science.blogspot.com/2009/12/history-of-power-frequency.html dan http://dunia-listrik.blogspot.com/2010/09/fenomena-frekwensi-listrik.html
http://www.exergy.se/goran/cng/alten/proj/97/o/

Jumat, 01 Juni 2012

POLITIK

Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.

Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional.

Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain:

  • politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles)

  • politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara

  • politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat

  • politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.

Dalam konteks memahami politik perlu dipahami beberapa kunci, antara lain: kekuasaan politik, legitimasi, sistem politik, perilaku politik, partisipasi politik, proses politik, dan juga tidak kalah pentingnya untuk mengetahui seluk beluk tentang partai politik.

 

ETIMOLOGI

Politik berasal dari bahasa Belanda politiek dan bahasa Inggris politics, yang masing-masing bersumber dari bahasa Yunani τα πολιτικά (politika - yang berhubungan dengan negara) dengan akar katanya πολίτης (polites - warga negara) dan πόλις (polis - negara kota).

Secara etimologi kata "politik" masih berhubungan dengan polisi, kebijakan. Kata "politis" berarti hal-hal yang berhubungan dengan politik. Kata "politisi" berarti orang-orang yang menekuni hal politik.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Politik

Selasa, 29 Mei 2012




The Ten Commandments


  1. You shall have no other gods before Me.
  2. You shall not make idols or bow down to them, nor serve them.
  3. You shall not use the name of the Lord your God disrespectfully.
  4. Remember the Sabbath day, to keep it holy.
  5. Honor your father and your mother.
  6. You shall not murder.
  7. You shall not commit adultery.
  8. You shall not steal.
  9. You shall not lie about your neighbor.
  10. You shall not lust for your neighbor’s house, or his wife, or any thing that is your neighbor’s.




    sumber http://christiananswers.net/godstory/commandments1.html

Jumat, 18 Mei 2012

Peranan Roh Kudus dalam Doa


Peranan Roh Kudus dalam Doa
1 Korintus 14:15

Doa merupakan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang Kristen. Karena, orang-orang percaya yang memiliki iman sejati menyadari bahwa mereka pada dasarnya adalah manusia yang tidak berdaya, lemah, dan miskin di hadapan Allah. Mereka juga tidak berdaya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Mereka perlu menyadari bahwa apa yang mereka butuhkan berada di dalam Allah dan Tuhan Yesus Kristus, bukan di dalam diri mereka sendiri. Karena semua yang kita butuhkan ada di dalam Kristus, maka orang Kristen seharusnya mencari dan memintanya di dalam doa kepada Allah. Tidak meminta di dalam doa kepada Allah berarti sama dengan orang yang mengabaikan harta terpendam yang ia miliki.
Doa itu sendiri adalah suatu persekutuan antara manusia dan Tuhan untuk memohon agar apa yang Tuhan telah janjikan dapat terpenuhi di dalam kehidupan orang percaya.

Mengapa berdoa
Karena semua yang kita butuhkan ada didalam kristus, maka orang kristen seharusnya mencari dan memintanya di dalam doa kepada Allah. Tidak meminta dalam doa kepada Allah berarti sama dengan orang yang mengabaikan harta yang terpendam yang ia miliki.
Menurut Calvin
Doa merupakan suatu persekutuan akrab, bahkan suatu percakapan antara manusia dan Tuhan, yang melibatkan dua pribadi yang memiliki perasaan dan hati. Karena itu doa bagi orang percaya adalah suatu emosi dari dalam hati yang dituangkan dan diungkapkan di hadapan Allah. Doa bukan suatu tindakan yang dilakukan tanpa perasaan hati dan emosi.
Mungkin ada orang-orang yang mengatakan bahwa doa tidak berguna karena allah sudah mengetahui apa kebutuhan kita, lagi pula Allah adalah Allah yang baik. Ia pasti akan mencukupkan segala kebutuhan kita tanpa kita bedoa.
Doa merupakan suatu perintah Allah untuk kebaikan kita sendiri yaitu untuk melatih iman percaya kita  agar tidak menjadi malas dan lemah.
Ada beberapa alasan mengapa kita perlu berdoa.
1.      Doa membakar hati kita dengan kemauan untuk mencari, mengasihi dan melayani Allah serta mencari pertolonganya di kala kita membutuhkannya.
2.      Doa melatih kita untuk membuka rahasia dan keinginan hati kita kepada Allah tanpa merasa malu.
3.      Doa melatih kita untuk mensyukuri apa yang sudah kita terima dari Allah.
didalam doa hati kita datang dengan pengucapan syukur dan terima kasih karena semua yang kita terima berasal dari Allah.
4.      Doa membimbing kita untuk merenungkan kebaikan Allah karena ia telah menjawab doa kita.
5.      Doa menghasilakn sukacita yang lebih besar karena Hal-hal yang kita terima melalui doa
6.      Doa berfungsi sebagai konfirmasi yang bersifat pribadi terhadap pemeliharaan Allah, bahwa Allah adalah Allah yang tidak pernah gagal menolong kita.


Aturan-aturan agar orang-orang percaya dapat berdoa dengan benar.
1.      Doa harus diarahkan kepada Allah dengan sikap hormat.
orang yang berdoa harus mengatur pikiran dan hatinya agar bersifat hormat .
2.      Doa yang harus dipanjatkan haruslah doa yang keluar dari perasaan kebutuhan yang sungguh-sungguh dan dengan rasa penyesalan. Doa yang tidak sungguh dan tulus merupakan suatu penghujatan kepada Allah.
3.      Doa harus dipanjatkan dengan rendah hati.
kemulian dan keyakinan diri sendiri harus yang dibuang, semua kemulian ditujukan kepada Allah.
4.      Doa yang dipanjatkan dengan rendah hati tersebut harus juga disertai dengan keyakinan bahwa doa kita akan dijawab.

Doa – doa orang percaya dijawab hanya melalui pengampunan Allah bukan karena sesuai dengan aturan-aturan tersebut. Sebab seringkali doa-doa yang dinaikan tidak sesui denga peraturan tersebut. Tetapi Allah menjawab karena belas kasihan dan pengampunannya.

Roh kudus sebagai inisiator dalam doa.
orang-orang tidak percaya dan tidak beriman mungkin saja berdoa memohon pertolongan dan pembebasan. Tetapi doa-doa mereka merupakan penghujatan kepada Allah. Harus diakui bahwa kadangkala doa-doa mereka dijawab oleh Allah meskipun doa-doa tersebut tidak keluar dari iman kepada Allah yang benar. Namun baginya hal ini merupakan kasus khusus dan tidak dapat dijadikan hukum. Menurutnya, Allah mau menjawab doa-doa tersebut karena Ia berbelas kasihan kepada mereka sebagai orang-orang berdosa. Lagi pula, ada perbedaan antara orang-orang yang tidak beriman tersebut dan orang-orang percaya yang dibimbing oleh iman dan pengertiannya akan kebaikan Allah.
Doa yang benar adalah doa yang lahir dari iman kepada Allah yang benar. Doa yang benar dan sejati bukan hanya sekadar mengangkat suara tetapi merupakan suatu permohonan yang keluar dari prinsip iman yang benar. Berdoa dengan benar lahir dari iman dan iman yang benar lahir dari firman Tuhan. [Rom 10:14, 17].”
Dengan demikian, hanya orang-orang percayalah yang dapat berdoa kepada Allah dan menerima berkat dari Allah, Di sinilah peran Roh Kudus diperlukan. Manusia tidak mampu menciptakan iman untuk dirinya sendiri. Roh Kudus yang menciptakan iman di dalam kehidupan orang percaya tersebut. Jadi, Roh Kuduslah yang memungkinkan manusia untuk berdoa kepada Allah.
Jika kita bandingkan dengan karya Kristus di dalam doa maka dapat dikatakan bahwa Kristus, dengan karya penebusan-Nya, membuka jalan untuk kita berdoa sedangkan Roh Kudus memampukan kita berjalan di jalan doa tersebut. Selain menciptakan iman di dalam diri orang percaya, Roh Kudus, yang adalah Roh Adopsi, bersaksi kepada orang percaya bahwa mereka adalah anak-anak Allah.
Kesaksian Roh Kudus ini penting karena bagi Calvin, orang percaya tidak mungkin bisa berdoa dengan benar jika didalam hati dan pikiran mereka tidak diyakinkan bahwa mereka adalah anak-anak Allah. Orang percaya sendiri tidak dapat menghasilkan keyakinan tersebut karena selalu terjadi kegelisahan dan ketidakpastian di dalam pikiran mereka. Roh Kuduslah yang memberikan jaminan ke dalam roh dan pikiran orang-orang percaya tersebut bahwa mereka telah menjadi anak-anak Allah.
Tanpa kesaksian Roh Kudus orang-orang percaya tidak memiliki keyakinan tersebut. Ketika Roh Kudus bersaksi kepada kita bahwa kita adalah anak-anak Allah, pada saat yang bersamaan Ia memberikan kepada kita suatu keberanian untuk memanggil Allah, Bapa kita. Oleh karena itu, kita berdoa kepada Allah, Bapa kita, dengan berani dan dapat berdoa dengan benar.
Roh kudus sebagai penolong kita dalam doa.
Menurut Calvin, sebagai orang percaya kita adalah manusia yang lemah. Ada banyak kejahatan di luar kita yang dapat mengancam kita. Di samping itu, kita juga memiliki banyak beban penderitaan. Semua ini memang dapat menghalangi kita berdoa dengan sempurna dan baik. Pikiran kita dapat tertutup oleh kegelapan sehingga tidak dapat meminta apa yang bijaksana dan pantas kepada Allah. Pikiran-pikiran kita dibingungkan dan diganggu oleh kesulitan-kesulitan kita bahkan oleh kejahatan-kejahatan kita sendiri.

Bukan hanya pikiran, tetapi keinginan hati atau emosi kita juga dapat salah dan tidak mengikuti perintah-perintah Tuhan. Sehingga, apabila kita berdoa dengan mengikuti keinginan hati kita semata-mata, maka kita tidak dapat berdoa dengan benar. Jika kita menjadikan keinginan hati membimbing doa-doa kita maka kita menjadikan Allah sebagai alat kejahatan kita daripada menjadikan Dia sebagai hakim

Allah mengutus Roh Kudus untuk menolong kita berdoa dengan benar dan mengangkat beban-beban kita. Ia adalah Rekan di dalam menanggung beban-beban kita. Ia juga menolong kita dengan cara memberi tahu apa yang benar dan mengontrol emosi kita. Setidaktidaknya, di sini ada tiga peran Roh Kudus di dalam doa.

Pertama, Roh Kudus mengajar pikiran kita apa yang seharusnya kita minta di dalam doa. Di sini peranan Roh Kudus dibandingkan dengan peranan-Nya di dalam memberikan pencerahan kepada kita untuk memahami Alkitab. Roh Kudus memberi kita pengertian tentang apa yang seharusnya boleh dan layak kita doakan, serta bagaimana seharusnya kita berdoa. Karena itu, kita seharusnya tidak terburu-buru membuka mulut untuk berdoa sampai Roh Kudus mengajar kita bagaimana berdoa.

Kedua, Roh Kudus menggerakkan hati kita untuk berdoa. Roh Kudus bukan hanya memberikan pengertian yang benar kepada kita tetapi Ia juga mendorong hati kita untuk mau berdoa. Keinginan mula-mula untuk berdoa pun berasal dari Roh Kudus; doa sebenarnya merupakan buah sulung Roh Kudus di dalam diri kita. Bahkan ketika kita berdoa meminta agar Roh Kudus datang memenuhi kita, inipun terjadi karena kita telah memiliki Roh Kudus. Di sini kita melihat bahwa Roh Kudus membimbing hati dan pikiran kita agar dapat berdoa dengan benar. Roh Kudus inilah yang kemudian menimbulkan di dalam diri kita keyakinan, keinginan, dan keluh kesah kepada Allah. Keluhan-keluhan yang diucapkan di bawah pimpinan Roh Kudus inilah yang disebut keluhan yang tak terucapkan (Rm. 8:26)

Di samping kedua peran tersebut, ada peran yang ketiga, yaitu Ia mengilhami doa-doa kita dengan kesungguhan dan ketekunan. Kesungguhan dan ketekunan untuk berdoa merupakan ciri-ciri dari doa-doa Kristen. Roh Kuduslah yang mempengaruhi hati kita dengan kesungguhan dan ketekunan sehingga doa-doa kita sampai ke surga. Bagi Calvin doa-doa yang digerakkan oleh Roh Kudus akan didengar oleh Allah karena Allah mengenali keinginan-keinginan kita di dalam doa sebagai keinginan yang berasal dari Roh-Nya sendiri.

Roh Kudus akan membimbing pendoa-pendoa tersebut agar berdoa sesuai dengan kehendak Allah. Doa seperti ini akan didengar Allah dan tidak akan dikecewakan oleh Allah. Kendati demikian, bukan berarti kita hanya menunggu gerakan dan dorongan Roh Kudus untuk berdoa, sehingga tidak diperlukan usaha dan upaya manusia lalu kita dapat bermalas-malasan berdoa. Bagi Calvin justru seharusnya kita berdoa memohon agar Roh Kudus menolong kita berdoa. Dorongan Roh Kudus tidak meniadakan upaya manusia karena di dalam hal ini iman kita teruji, apakah iman kita sungguh-sungguh dapat menggerakan hati kita.
Kesimpulan
Roh Kuduslah yang melahirkan pendoa-pendoa melalui iman yang diciptakan-Nya di dalam diri manusia. Roh Kudus juga yang memberikan keyakinan bagi orang-orang percaya untuk menghampiri Allah sebagai Bapa mereka.
Selain itu, di dalam doa Roh Kudus menolong orang-orang percaya dengan mengajarkan apa yang dapat diminta dan bagaimana mereka memintanya. Ia juga yang menggerakkan hati mereka untuk berdoa, mengeluarkan keluh kesah yang bahkan tidak begitu pahami oleh mereka sendiri, yang disebut sebagai keluh kesah yang tak terucapkan.
Ia pula yang mendorong orang-orang percaya untuk berdoa dengan sungguh-sungguh dan tekun. Namun hal ini tidak boleh membuat kita malas berdoa dan hanya menunggu Roh Kudus menggerakkan kita untuk berdoa. Justru kita harus memohon agar Roh Kudus menolong kita untuk berdoa. Lagi pula, di dalam doa ini akan teruji apakah iman kita adalah iman yang sejati atau bukan.

my parents