Pemandu Lalu Lintas Udara (bahasa Inggris: Air Traffic Controller, ATC) adalah penyedia layanan yang mengatur lalu lintas di udara terutama pesawat terbang
untuk mencegah pesawat terlalu dekat satu sama lain dan tabrakan. ATC
atau yang disebut dengan Air Traffic Controller merupakan pengatur lalu
lintas udara yang tugas utamanya mencegah pesawat terlalu dekat satu
sama lain dan menghindarkan dari tabrakan (making separation). Selain
tugas separation, ATC juga bertugas mengatur kelancaran arus traffic
(traffic flow), membantu pilot dalam menghandle emergency/darurat, dan
memberikan informasi yang dibutuhkan pilot (weather information atau
informasi cuaca, traffic information, navigation information, dll). ATC
adalah rekan dekat seorang Pilot disamping unit lainnya, peran ATC
sangat besar dalam tercapainya tujuan penerbangan. Semua aktifitas
pesawat di dalam area pergerakan diharuskan mendapat izin terlebih
dahulu melalui ATC, yang nantinya ATC akan memberikan informasi,
insturksi, clearance/izin kepada Pilot sehingga tercapai tujuan
keselamatan penerbangan, semua komunikasi itu dilakukan dengan peralatan
yang sesuai dan memenuhi aturan.
Tujuan
Berikut ini adalah tujuan pelayanan lalulintas udara yang diberikan
oleh ATC berdasarkan Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS)
bagian 170 atau sering disebut dengan istilah 5 objective of ATS dalam
ICAO dokumen ANNEX 11 tentang Air Traffic Service:
- Mencegah Tabrakan antar pesawat.
- Mencegah Tabrakan antar pesawat di area pergerakan rintangan di area tersebut.
- Mempercepat dan mempertahankan pergerakan Lalu Lintas udara.
- Memberikan saran dan informasi yang berguna untuk keselamatan dan efisiensi pengaturan lalu lintas udara.
- Memberitahukan kepada organisasi yang berwenang dalam pencarian pesawat yang memerlukan pencarian dan pertolongan sesuai dengan organisasi yang di persyaratkan
Pembagian Pelayanan Lalu Lintas Udara
Sesuai dengan tujuan pemberian Air Traffic Services, Annex 11,
International Civil Aviation Organization (ICAO), 1998, Pelayanan yang
diberikan oleh petugas pemandu lalu lintas udara terdiri dari 3 (tiga)
layanan, yaitu:
- Pelayanan Lalu Lintas Udara (Air traffic control service), terbagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu:
- Aerodrome Control Service
- Memberikan layanan Air Traffic Control Service, Flight Information Service, dan Alerting Service yang diperuntukkan bagi pesawat terbang yang beroperasi atau berada di bandar udara dan sekitarnya (vicinity of aerodrome) seperti take off, landing, taxiing, dan yang berada di kawasan manoeuvring area, yang dilakukan di menara pengawas (control tower). Unit yang bertanggung jawab memberikan pelayanan ini disebut Aerodrome Control Tower (TWR).
- Approach Control Service
- Memberikan layanan Air Traffic Control Service, Flight Information Service, dan Alerting Service, yang diberikan kepada pesawat yang berada di ruang udara sekitar bandar udara, baik yang sedang melakukan pendekatan maupun yang baru berangkat, terutama bagi penerbangan yang beroperasi terbang instrumen yaitu suatu penerbangan yang mengikuti aturan penerbangan instrumen atau dikenal dengan Instrument Flight Rule (IFR). Unit yang bertanggung jawab memberikan pelayanan ini disebut Approach Control Office (APP).
- Area Control Service
- Memberikan layanan Air Traffic Control Service, Flight Information Service, dan Alerting Service, yang diberikan kepada penerbang yang sedang menjelajah (en-route flight) terutama yang termasuk penerbangan terkontrol (controlled flights). Unit yang bertanggung jawab memberikan pelayanan ini disebut Area Control Centre (ACC).
- Pelayanan Informasi Penerbangan (Flight Information Service)
- Flight Information Service adalah pelayanan yang dilakukan dengan memberikan berita dan informasi yang berguna dan bermanfaat untuk keselamatan, keamanan, dan efisiensi bagi penerbangan.
- Pelayanan keadaan darurat (alerting service)
- Pelayanan keadaan darurat adalah pelayanan yang dilakukan dengan memberitahukan instansi terkait yang tepat, mengenai pesawat udara yang membutuhkan pertolongan search and rescue unit dan membantu instansi tersebut, apabila diperlukan.
Prosedur separasi minimal
Dalam menjalankan tugas pemanduan lalu lintas udara, terdapat
berbagai prosedur dan peraturan. Prosedur dan peraturan tersebut telah
ditentukan dalam bentuk aturan baku, baik secara internasional maupun
nasional. Untuk peraturan dan prosedur internasional dikeluarkan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization, ICAO) berupa buku-buku aturan (annexes) dan buku-buku petunjuk (manual)
dalam bentuk baku dan anjuran. Sesuai aturan pada Organisasi
Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation
Organization / ICAO) Doc. 4444 ATM / 501, Chapter 5 point 5.3.2,
5.4.1.2, 5.4.2.2 dan 5.4.2.3 untuk menciptakan pelayanan lalu lintas
udara yang optimal, terutama keselamatan dalam penerbangan, maka
dibuatlah peraturan-peraturan atau ketentuan sebagai berikut:
- Ketentuan-ketentuan cara pemisahan pesawat udara
- Separasi Vertikal, didapat dengan cara membedakan ketinggian (altitude, flight level) pesawat udara.
- Separasi Horizontal, didapat dengan cara memberikan:
- Separasi longitudinal: dengan cara menjaga jarak antara pesawat udara yang terbang pada jalur yang sama berpotongan, berlawanan arah, dinyatakan dalam unit waktu atau jarak.
- Separasi lateral: dengan cara memberikan rute penerbangan dalam arah atau jalur yang berbeda.
- Composite Separation: kombinasi antara separasi horisontal, bila dilaksanakan harus ada persetujuan regional air navigation.
- Ketentuan-ketentuan jarak minimum antar pesawat udara
- Separasi Vertikal Minimum:
- Besarnya separasi vertikal minimum adalah 1000 feet pada F290 atau dibawahnya dan 2000 feet jika di atas F290.
- Pada ruang udara tertentu didasarkan atas persetujuan regional tentang navigasi udara, separasi vertikal 300 m (1000 feet) boleh diterapkan sampai pada ketinggian F410 sedangkan di atas ketinggian F410, separasinya harus 600 m (2000 feet).
- Separasi Lateral
-
-
- Separasi Lateral adalah pemisahan jalur lintasan (track) antar pesawat udara yang menggunakan alat bantu navigasi udara untuk terbang di track tertentu dengan jarak minimum:
- 1> Very High Frequency Omni Range (VOR): Kedua pesawat udara sudah pada radial yang terpisah secara diverging kurang lebih 150 dan salah satu pesawat udara kurang lebih sudah berada pada jarak 28 km (15 Nm) atau lebih dari alat bantu navigasi tersebut.
- 2> Non Directional Beacon (NDB): Kedua pesawat udara sudah pada track ke atau dari yang terpisah secara diverging kurang lebih 300 dan salah satu pesawat udara kurang lebih sudah berada pada jarak 28 km (15 Nm) atau lebih dari alat bantu navigasi tersebut.
- 3> Dead Reckoning (DR): Kedua pesawat udara sudah pada track yang terpisah secara diverging kurang lebih 450 dan salah satu pesawat udara kurang lebih sudah berada pada jarak 28 km (15Nm) atau lebih dari titik perpotongan track.
-
- Separasi Longitudinal
- Separasi Longitudinal didasarkan atas waktu, artinya pemisahan
pesawat udara dengan menggunakan waktu. Hal tersebut dapat dilakukan
dengan ketentuan sebagai berikut:
- Untuk pesawat udara yang terbang pada track yang sama:
- 15 menit.
- 10 menit, bila ada alat bantu navigasi untuk mengetahui posisi dan kecepatannya.
- 5 menit, diberikan kepada pesawat udara yang berangkat di bandara yang sama atau antara dan pesawat udara en-route dimana pesawat udara yang di depan lebih cepat 20 knots atau lebih.
- (d) 3 menit, dalam kasus yang dengan point di atas tetapi pesawat udara yang di depan mempunyai kecepatan 40 knot atau lebih.
- Untuk pesawat udara yang terbang pada track yang sama:
- Separasi Longitudinal didasarkan atas waktu, artinya pemisahan
pesawat udara dengan menggunakan waktu. Hal tersebut dapat dilakukan
dengan ketentuan sebagai berikut:
-
-
- 2> Untuk pesawat udara yang climbing atau descending:
-
- (a) 15 menit, pada saat terjadi perpotongan ketinggian.
- (b) 10 menit, pada saat terjadi perpotongan ketinggian dan ada alat bantu navigasi.
- (c) 5 menit, pada saat terjadi perpotongan ketinggian, perubahan ketinggian dimulai dalam 10 menit dari waktu pesawat udara kedua melaporkan posisinya.
- 3> Untuk pesawat udara yang berpotongan track (arah terbang)
-
- (a) 15 menit, pada saat terjadi perpotongan ketinggian.
- (b) 10 menit, apabila ada alat bantu navigasi yang memungkinkan untuk mengetahui posisi dan kecepatannya.
-
- Minimum separasi longitudinal yang didasarkan pada jarak dengan menggunakan DME:
-
-
- 1> Untuk pesawat udara pada ketinggian terbang yang sama dan track yang sama:
-
- (a) 37 km (20 Nm), dilaksanakan jika pesawat udara menggunakan DME stasiun dan pemisahan dicek dengan pembacaan DME.
- (b) 19 km (10 Nm), pesawat udara yang di depan lebih cepat 20 knots, pada track DME, dapat dicek posisi pada saat bersamaan.
- 2> Untuk pesawat udara pada ketinggian yang sama dan tracknya berpotongan:
- Sama dengan ketentuan di atas dengan tambahan setiap pesawat udara dapat diketahui jaraknya dari titik perpotongan.
- 3> Untuk pesawat udara yang climbing atau descending pada track yang sama:
- 19 km (10 Nm) pada saat terjadi perpotongan ketinggian, setiap pesawat udara pada track DME, salah satu pesawat udara tetap pada ketinggiannya, pemisahan dapat dicek dengan pembacaan DME secara bersamaan.
-
- e) Minimum Separasi Radar
-
-
- Kondisi dunia penerbangan saat ini mengalami perkembangan, yang ditandai dengan bertambahnya perusahaan penerbangan dan armadanya. Hal ini berakibat pada bertambahnya jumlah pergerakan pesawat udara yang mengakibatkan kepadatan lalu lintas udara.
-
-
-
- Menurut Drs. Aminarno Budi Pradana SSiT.MM dalam buku peraturan dan pelayanan lalu lintas udara (2000:18-19), menyebutkan bahwa, kepadatan lalu lintas udara terjadi disebabkan karena jumlah lalu lintas udara meningkat atau kapasitas sistem pemanduan lalu lintas udara menurun. Hal ini dapat menimbulkan ketidaklancaran dan ketidakefisienan arus lalu lintas udara.
-
-
-
- Menurut Aminarno (2000:60) Untuk itu harus dilakukan usaha penyelesaian yaitu, dengan upaya meningkatkan kapasitas sistem pemanduan lalu lintas udara. Salah satunya adalah dengan melakukan pemasangan peralatan radar, sehingga dalam pelayanan lalu lintas udara menggunakan prosedur radar.
-
-
-
- Minimum Separasi Radar Menurut Doc 4444 ATM / 501 Chapter 8 point 8.7.4.1 dan 8.7.4.2 adalah sebagai berikut:
-
-
-
- 1> Separasi Horizontal: 9,3 km (5 Nm)
-
-
-
- Separasi di atas dapat diterapkan oleh penyelengara bandar udara dan bisa dikurangi tetapi tidak boleh kurang dari:
-
-
-
- 2> 5,6 km (3,0 Nm) apabila kemampuan peralatan radar memenuhi syarat dan dapat memberikan lokasi yang diijinkan (tidak terhalang obstacle).
-
-
-
- 3> 4,6 km (2,5 Nm) antar pesawat udara yang di depan dan yang di belakang, keduanya telah berada pada final approach track yang sama dalam 1,8 km (10 Nm) dari end of runway, pengurangan separasi minimum 4,6 km (2,5 Nm) boleh dilakukan dengan ketentuan:
-
-
-
-
-
- (a) Pesawat udara yang mendarat dapat keluar dari runway dengan waktu tidak boleh lebih dari 5 detik.
-
-
-
-
-
-
-
- (b) Sistem pemberhentian dilaporkan dalam keadaan baik dan runway occupancy times tidak dirugikan oleh pengaruh salju yang menumpuk, salju atau es.
-
-
-
-
-
-
-
- (c) Sistem radar dilengkapi dengan azimuth dan resolusi jarak, yang secara otomatis diperbaharui dalam tempo setiap 5 detik atau kurang dari itu, dan menggunakan display yang sesuai.
-
-
-
-
-
-
-
- (d) ATC Aerodrome dilengkapi dengan surface movement radar (SMR) atau surface movement guidance and control system (SMGCS) untuk mengamati secara visual yang terletak pada runway yang digunakan dan pada keluar dan masuknya taxiways.
-
-
-
-
-
-
-
- (e) Approach speed harus tetap dijaga dan dimonitor oleh pemandu lalu lintas penerbangan, dan ketika dibutuhkan penyesuaian, maka harus diyakinkan atau dijamin dengan separasi dan tidak boleh dikurangi dibawah minimum separasi.
-
-
-
-
-
-
-
- (f) Operator pesawat udara dan pilot, harus benar-benar menyadari pentingnya pengosongan runway secepatnya setelah mendarat, jika penggunaan minimum separasi di final approach diaplikasikan.
-
-
-
-
-
-
-
- (g) Peranan saparasi minimum wake turbulance adalah fleksible, tidak harus sesuai standar prosedur, tetapi boleh sesuai dengan local prosedur yang diterapkan sesuai dengan tipe pesawat udara.
-
-
-
-
-
-
-
- (h) Prosedur yang digunakan pada pengaplikasian pengurangan dalam minimum saparasi harus dipublikasikan dalam AIPs.
-
-
-
-
-
- Menurut Drs. Aminarno BP.SsiT.MM (1998:67), Tujuan pemberian pelayanan radar dalam pemanduan lalu lintas penerbangan antara lain:
-
-
-
-
-
-
- 1> Meningkatkan pemanfaatan ruang udara (airspace utilization):
-
-
-
-
-
-
-
-
-
- Di dalam pelayanan non-radar di wilayah Area Control Centre (ACC), pesawat harus terbang pada jalur penerbangan yang terbatas jumlahnya, dan pengaturan pesawat dilakukan secara linier, sedangkan di dalam pelayanan radar, pesawat tidak terikat oleh jalur penerbangan dan boleh disimpangkan (radar navigation) untuk memperoleh jalur terpendek atau terdekat, sehingga pesawat dapat diatur secara menyebar atau sejajar.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
- 2> Mengurangi pemisahan jarak minimum (separation minima), sehingga semakin banyak pesawat yang ditampung.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
- 3> Memandu pesawat melalui rute langsung (mengurangi waktu terbang dan biaya operasi):
-
-
-
-
-
-
-
-
-
- Di dalam pelayanan non-radar, pesawat dipandu secara ketat agar tidak keluar jalur (karena lebar aman air traffic service hanya 5-10 Nm dari as jalur), maka di dalam pelayanan radar pesawat dapat diarahkan langsung ke titik tujuan (radar navigation), sehingga jarak yang harus ditempuh bisa lebih pendek dan pada akhirnya adalah lebih efisien.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
- 4> Mengurangi beban kerja petugas pemandu lalu lintas udara.
- 5> Meningkatkan keselamatan lalu lintas udara melalui acuan penglihatan atau visual.
-
-
-
-
-
-
- Menurut Drs.Aminarno BP.SsiT.MM (1998:71), keuntungan yang diperoleh
dari pemberian pelayanan lalu lintas udara dengan menggunakan radar,
antara lain:
-
-
- 1> Menjaga kewaspadaan atau pengawasan dengan informasi posisi yang lengkap.
-
-
- Menurut Drs.Aminarno BP.SsiT.MM (1998:71), keuntungan yang diperoleh
dari pemberian pelayanan lalu lintas udara dengan menggunakan radar,
antara lain:
-
-
-
-
-
-
- 2> Memberikan arahan atau panduan (vector) untuk pemisahan, bantuan bernavigasi, mempercepat keberangkatan melalui jarak terpendek (jalan pintas atau jalan potong kompas) dan approach radar.
-
-
-
-
3> Membantu dalam memberikan informasi lalu lintas udara,
menggambarkan posisi pesawat udara dalam kondisi darurat (plotting
emergency condition), menghindari cuaca jelek, dan lain-lain
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pemandu_lalu_lintas_udara

